Aku adalah seorang mahasiswa disebuah perguruan tinggi. Setiap ada waktu luang dari jadwalku, aku selalu menyempatkan diriku untuk membuka internet. Sekedar mencari teman, mencari info, atau membaca artikel-artikel.
Aku sangat menyukai masalah lingkungan. Sehingga aku bergabung dalam forum-forum yang membahas lingkungan. Disebuah forumlah aku bisa mengenalnya. Namanya Anto, seorang yang sekarang juga sedang kuliah.
Kami sering berkirim email untuk membicarakan masalah lingkungan. Dan pada hari itu aku menerima email darinya. Email yang menceritakan rumahnya. Dan mulailah aku membacanya,
Teman, tentunya kamu tau Global warming atau dalam bahasa kita lebih dikenal pemanasan global itu apa. Mungkin semua orang tau kata itu dan semua paham kata itu, maknanya, sebabnya, akibatnya. Kata yang mungkin paling banyak diucap orang saat ini. Kata yang paling banyak mendapat perhatian. Kata yang selalu dibahas dimana mana, dalam setiap forum. Ya itulah pemanasan global.
teman, Setiap aku lihat diforum-forum yang aku kunjungi aku selalu melihat orang menyerukan stop global warming, kurangi pencemaran udara, jangan tebang hutan kami, dll. Semua membicarakan hal itu. Tapi apa sekarang? Tak ada hasil yang aku dapat.
Aku akan bercerita sedikit tentang diriku teman. Aku adalah anak pinggiran. Aku tinggal disebuah pulau yang elok pemandangannya, kaya akan hasil bumi, aku suka hidup disini. Penduduknya juga baik-baik, saling tolong menolong, sopan santun. Anak muda nya sopan kepada yang tua, yang tua menyayangi yang muda.
Aku sangat bangga pada pulauku ini, walau jauh dari peadapan maju tapi aku tak minder. Aku punya sesuatu dipulau ini yang lebih berharga daripada gedget-gedget mereka.
Tapi sejak bumi kita ini mengalami yang namanya global warming, pulauku terasa ada yang berkurang. Ya sesuatu seakan semakin menghilang. Tapi apa? Lama kelamaan aku baru sadar. Bahwa yang hilang adalah pulauku sendiri. Air laut yang naik mengakibatkan Pulau indahku terkubur lautan. Semua gara-gara dua kata itu. Pemanasan global. Ya karena itu.
Teman, Pulauku memang tidak hilang semua, tapi semua yang ada dipulauku mulai menghilang. Teman-temanku, tetanggaku, semua penduduk mulai mengungsi. Padahal tak ada tsunami, tak ada gunung meletus. Tapi kenapa semua mengungsi? Ternyata baru aku tau ternyata global warming itu sebuah bencana. Baru aku tau sekarang ada yang namanya pengungsi musim. Karena setelah musim penghujan pulauku hilang seperti tak pernah ada.
Setelah aku mengungsi, aku pun kembali. Tapi apa yang aku dapati? Aku tak melihat pulauku lagi. Aku binggung. Apa ini pulauku yang indah dulu? Tapi apa yang sekarang aku dapati hanyalah sebuah dataran kosong yang hanya ada bekas-bekas seperti pernah ada kehidupan.
Hampir semua orang yang kembali kepulau memilih kembali ke pulau pengungsian dan banyak yang hijrah ke daerah lain dinegri ini untuk memulai hidup baru. Tapi bagaimana aku? Aku tak ingin pergi aku tak ingin meninggalkan pulau indahku. Aku sudah mempunyai teman disini. Aku tak mau pisah dengan tanah ini.
Tapi apa daya, aku tak bisa untuk tinggal lagi. Orang tuaku memilih untuk pindah ke pulau utama. Pulau jawa. Kami akan memulai hidup baru. Berarti aku harus mencari teman baru, rumah baru, dan semuanya. Tapi apakah aku akan diterima dipulau ini teman? Dan dimana lagi akan aku dapati tempat seperti pulauku dulu dipulai jawa ini? Tak ada. Mungkin tak ada.
Teman, sungguh aku rindu pulauku. Aku ingin kembali kepulauku. Aku ingin teman-temanku. Aku rindu semuanya teman. Aku tak mau berpisah.
Teman, salah siapa semua ini terjadi? Kami tak pernah merusak hutan karena hutan teman kami, kami tak pernah mencemari udara. Udara kami adalah yang paling bersih teman. Tapi kenapa kami yang harus menerima semua akibatnya? Kenapa hanya kami yang yang merasakan penderitaan? Kenapa teman? Kenapa?
Mungkin jika semua orang melihat pulauku ini akan merubah mereka, merubah perilaku mereka agar tak mencemari lingkungan. Dan pulauku akan selamat. Tapi rasa tamak manusia, rasa tak puas telah membutakan mata mereka.
Teman, sekarang aku hanya bisa pasrah. Aku hanya bisa melihat pulauku dalam mimpi-mimpiku. hanya kenangan yang tersisa dari pulauku yang indah. Hanya dalam mimpi-mimpiku aku bisa merasakan keindahan pulauku lagi.
Teman, mungkin hanya ini yang bisa aku katakan tentang pulau indahku. Pulau yang sekarang hanya ada dalam mimpiku.
Teman, aku menceritakan hal ini agar orang-orang tau dan membuka mata hatinya. Agar tak ada pulau-pulau lagi yang senasip dengan pulauku.
Terimakasih teman.
Itulah surat dari teman baruku. Temanku yang telah mengalami penderitaan akibat ulah para manusia yang mengundulu hutan, membuang sampah sembarangan, mencemari lingkungan. Termasuk aku sendiri.
Oh temanku yang malang, maafkanlah diriku.
0 komentar:
Posting Komentar